Mr.Basf dan kucing kampung

November 19th, 2008

Memberi makan kucing?

Untuk apa?

Terus terang saya bukan penyayang binatang. Meski juga bukan pembenci binatang. Sikap saya biasa saja. Binatang ya binatang, dunia lain, ga ada urusannya dengan saya.

Bahkan terkadang, iba saya muncul kalau melihat binatang dalam kondisi mengenaskan. Hanya, iba itu tetap sebatas iba, tak berubah jadi tindakan.

Pernah suatu kali seekor kucing masuk rumah kami di Kaliwungu. Kondisinya menyedihkan. Badannya kurus, ada luka, dan kelihatan ruas tulangnya. Ia mengeong lemah dan jalannya pun sudah tertatih. Sepertinya hampir mati.

Duh.. saya jadi sedih lagi kalau teringat itu.

Saya hanya bisa iba, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Abang saya yang akhirnya bertindak. Ia mengangkat kucing sekarat itu dan menaruhnya begitu saja di pinggir jalan, sekitar 20 meter dari rumah. Ia tidak ingin kucing itu mati di dalam rumah, nanti bikin tambah kerjaan.

Kini setelah saya menikah, alhamdulillah istri lebih sigap menghadapi ‘invasi kucing’ seperti itu. Pernah suatu kali habis subuh, ada kucing mengeong persis di depan pintu. Setelah diintip, eh, anak kucing lagi! Badannya juga kurus, kurang makan. Induknya mungkin entah ke mana.

Istri langsung mengambil ikan dan meminta saya mengantarkannya ke luar. Saya oke saja. Paling tidak derajat saya naik sedikit. Dulu saya tidak berbuat apa-apa ketika rumah didatangi kucing sekarat. Sekarang, minimal saya terlibat sebagai ‘tim pengantar makanan’.

(meski setelah saya keluar hendak ngasih ikan, eh, si kucing piyik itu justru pergi, hingga saya sempat muter-muter nyari. Padahal subuh, masih gelap lagi, meski akhirnya ketemu sekitar 10 meter dari rumah! Hhh.. dasar kucing!)

Beberapa kali akhirnya rumah kami didatangi kucing kampung, minta makan. Kalau ada ikan lebih, atau tulang-tulang, ya dikasih. Kalau ngga ada, ya apa boleh buat.

Tapi untungnya ‘invasi kucing kampung’ untuk minta makan itu tidak sering terjadi. Sepertinya salah satu tetangga, yakni engkong tua pemilik warung, yang berjarak dua rumah dari kami, juga ikut memberi makan. Beberapa kali saya lihat si engkong jalan bawa plastik dan kucing pada mengekor.

Selama ini, saya melihat aktivitas memberi makan kucing itu dalam level ‘humaniora’, semacam perikehewanan di kala senggang, hehe… atau katakanlah semacam aktivitas iseng-iseng berbuat baik, daripada bengong nganggur.

Tapi kemudian pengetahuan itu datang.

more »

Ini bukan logika Cartesian

October 17th, 2008

Suatu hari seorang istri kehilangan uang Rp 300 ribu di dalam rumah. Sudah dicari tidak juga ketemu. Padahal ia ingat betul terakhir kali menaruh uangnya. Tapi sekarang kok tiba-tiba hilang?

Siapa yang ngambil? Masak sih ada pencuri masuk ke dalam rumah. Atau jangan-jangan, dicuri tuyul? Hehe..

Bingung, si istri lalu cerita pada suaminya -yang juga ikutan bingung. Kira-kira apa yang akan dilakukan si suami?

  • mencari lagi sampai ketemu
  • mencurigai kalau tuyul telah menginvasi rumah, thus berkonsultasi ke dukun (hiiiy..amit-amit dah)
  • baca Quran

Si suami akhirnya mengambil pilihan ketiga.”Tenang Bu, ntar Bapak baca Quran,” katanya pada si istri, mencoba menenangkan.

Aneh, ya? Apa hubungannya? Memangnya kalau baca Quran terus uangnya mak jegagik bisa balik sendiri?

Kalau anda bertanya begitu, berarti anda memang terbiasa dengan logika Cartesian. Relasi antara sebab dan akibat harus benar-benar nyata, bukan sekadar imajinatif. Dalam tingkatan ekstrem, pilihan yang diambil si suami di atas mungkin akan dikategorikan sebagai ‘cara berpikir mistis’, yang sering dilakukan para penganut animisme/dinamisme zaman purba.

Jadi kalau terjadi banjir, bukannya berhenti menggunduli hutan, mereka justru melakukan persembahan pada dewa-dewa bukit Olympus..hehe..

Tapi si suami dalam cerita ini hidup di zaman modern, tepatnya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dia adalah tetangga sebelah saya, sekaligus pemilik rumah kontrakan yang saya tempati. Namanya sebut saja Mr. H, berusia sekitar 50-an tahun.

Sehari-hari Mr. H bekerja sebagai ustadz kampung merangkap guru les bahasa Inggris untuk anak SD. Terkadang ia juga diminta berceramah di masjid-masjid. Beberapa kali waktu sholat Jumat di masjid kampung, Mr. H yang jadi khotibnya.

Setiap 4-5 hari sekali, kalau saya harus buang sampah, biasanya saya melewati halaman rumah mereka. Saya sering melihat dia duduk di depan rumahnya, komat-kamit baca Quran dengan suara pelan. Padahal itu siang hari bolong.

Mr. H memang seorang pembaca Quran yang tekun. Thus, ketika istrinya cerita kalau uang Rp 300 ribu secara misterius menghilang dari dalam rumah, it’s very likely that he turns to thing he does best -reading The Quran.

Selama seminggu setelah peristiwa hilangnya uang Rp 300 ribu itu, Mr. H terus membaca Quran. Mungkin dia menjadikan aktivitas baca Quran sebagai ajang ‘berkeluh kesah kepada Allah’ (Ya Allah, kok duit hilang sih.. mbok dibantu.. kan bentar lagi lebaran…) hehehe…

Mungkin dia benar-benar berharap uang itu bisa ketemu setelah baca Quran (siapa tahu dengan begitu pikiran jadi terang), atau mungkin dia membaca Quran karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Wallahu’alam. Soal niat hanya Allah yang tahu. Saya cuma tahu fakta-faktanya.

Yang jelas, setelah seminggu itu, Mr. H akhirnya mengkhatamkan Al Quran.

Terus uang itu ketemu? Hehehe…ternyata tidak. Uang itu tetap hilang secara misterius. Unsolved mystery. Cuma, kemudian sesuatu yang lain terjadi.

more »

Muslim expats community in Jakarta

September 18th, 2008

Where to find muslim expats community in Jakarta?

Recently I wrote an article about Rahmania Foundation in Karet, Central Jakarta. They have a weekly gathering, on Thursdays after maghrib prayer, for english-speaking people wish to learn the Quran.

The gathering was named ‘English Quranic Studies’, and perhaps one of the very few available gatherings for muslim expats in Jakarta.

I met a woman named Cary, 27, at the gathering. She was from Oklahoma and converted to Islam in 2001. Funny enough, she learned about Rahmania Foundation when she was in Oklahoma (from Indonesian muslim society there).

more »