Sori kalau saya menggunakan blog ini untuk memejengkan diri sendiri. That’s actually not my style.
Hanya, terkadang saya bertemu narasumber spesial dan merasa sayang kalau tidak berfoto bersama.
Salah satunya adalah bapak tua yang sedang Anda lihat ini.
Namanya Arthur G. Gish, usia 69 tahun, seorang Kristen taat, dan aktivis perdamaian CPT (Christian Peacemaker Teams) untuk wilayah Palestina.
Art Gish -demikian ia biasa dipanggil– datang ke Jakarta atas undangan penerbit Mizan yang meluncurkan versi terjemahan karyanya, Hebron Journal (2001).
Buku itu menceritakan pengalaman Art Gish selama menjadi aktivis CPT di Palestina. Mizan menerbitkannya dengan judul sangat panjang: Hebron Journal, Catatan Seorang Aktivis dari Amerika yang Melawan Kekejaman Israel di Amerika dengan Jalan Cinta dan Anti-Kekerasan.
Harganya lumayan mahal, Rp 74.500. Tapi insyaallah it’s worth it. Sebab di buku itu Art menceritakan apa yang ia lihat, ia dengar, bagaimana perlakuan tentara Israel terhadap warga Palestina, dll.
Singkat kata it’s a first-person report. Bukan buku teori atau analisis. Membacanya, Anda akan mendapat gambaran bagaimana hidup keseharian warga Palestina.
Cover buku itu cukup provokatif. Tampak Art mengenakan topi merah -tanda aktivis CPT- menghadang sebuah tank dengan moncong yang hanya berjarak beberapa meter dari tubuhnya.
Di bawah ini adalah fotonya. Foto yang kata Art menjadi headline di banyak surat kabar dunia, tapi tidak muncul di surat kabar Amerika.
Dan beginilah setelah foto itu dipermak jadi cover buku Mizan.
Foto itu diambil pada 30 Januari 2003, di Hebron. Saat itu Israel melakukan aksi ofensif dengan mengirimkan puluhan tentara dan tank untuk mengendalikan Hebron. Mereka juga meratakan pasar Hebron sepanjang dua blok -dan di situlah kebetulan Art Gish berada.
Art menuliskan aksi pada 30 Januari 2003 itu (juga ada di buku) dengan judul “Teroris di Antara Buah Apel”. Berikut kutipannya:
(30/1/2003)
Seluruh Hebron hari ini berada di bawah kendali total militer Israel. Aku bisa merasakan ada masalah. Saat menyusuri jalan, aku segera menyadari ada keributan di Al Manara. Aku ngeri melihat apa yang terjadi di sana.
Dua tank dan dua buldozer meratakan pasar sepanjang dua blok. Bahan-bahan makanan berserakan dan lumat di mana-mana, di sini, di kota yang banyak penduduknya kelaparan. Para pemilik kios dengan panik mencoba menyelamatkan berkotak-kotak tomat, jeruk, pisang, dan banyak lagi jenis makanan…
Rasa tak berdaya terus menguasaiku, tetapi aku sadar bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku mulai memindahkan kotak-kotak makanan dari sasaran buldozer. Mungkin ada 12 kotak yang berhasil kuselamatkan…
Aku mulai menghadapi tentara-tentara itu. Aku berteriak kepada mereka, bertanya apakah mereka bangga atas apa yang mereka lakukan, apakah ini yang namanya perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan. Aku berteriak, “Baruch hashem Adonai!” (Terpujilah nama Tuhan!)…
Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya dan mempersilahkannya meludahiku. Dia menolak tawaranku…
Sebuah tank menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, berdoa, dan berteriak, “Tembak, tembak! Baruch Hashem Adonai!”
Tank itu berhenti beberapa inci di depanku…
Sore harinya, aku kembali ke Al Manara dan melihat para pemilik kios mengais-ngais puing-puing, berusaha mencari apa yang masih bisa diselamatkan.
Aku tak bisa berkata-kata.
Militer Israel memberlakukan pengawasan total di Hebron hari ini; kata mereka untuk mencari teroris. Aku bertanya-tanya, apa ada teroris bersembunyi di antara apel dan jeruk?
Versi utuh catatan ini, berjudul Terrorist Among The Apples, bisa Anda baca di sini.
Pertanyaan besarnya, tentu, kenapa Art berani melakukan kenekatan seperti itu? Bagaimana kalau ia ditembak Israel? Apa dia tidak takut mati?
Jawabannya mungkin faith. Iman.
Art adalah seorang penganut pasifis (anti-kekerasan) tulen. Dia termasuk anggota jemaat Church of The Brethern yang beraliran pasifisme. Jemaat ini yakin bahwa “semua perang adalah dosa” dan “Jesus memerintahkan untuk memaafkan musuh”. Pada era perang Vietnam, banyak anggota jemaat ini yang menolak wajib militer dan lebih memilih dipenjara.
Church of The Brethern adalah salah satu gereja yang memiliki tradisi hampir seperti amish. Mereka (yang taat tentu) tidak merokok, tidak minum alkohol, dan tidak menyekolahkan anak di sekolah sekuler.
Art sendiri bersekolah di seminari Manchester College, Indiana. Ia bahkan pernah menjadi “street preacher”, alias orang yang dengan pede-nya berdiri di trotoar, lalu mendakwahi para pejalan kaki yang lewat.
Singkat kata, Art adalah seorang kristen konservatif. Ia yakin apa yang ia lakukan di Palestina adalah ibadah menurut ajaran agamanya.
Kebetulan saya seorang muslim konservatif. Jadi setidaknya kami punya kesamaan.
Saya bertemu Art Gish di aula Universitas Paramadina -tempat peluncuran bukunnya- Rabu 23 Juli lalu. Yang hadir cukup banyak, sekitar 200-an orang. Ada mahasiswa, aktivis, orang-orang Mizan, dan tentu saja wartawan.
Setelah pembukaan macam-macam (dari rektor Paramadina, dari Mizan), akhirnya Art bicara. Yang ia sampaikan pertama kali, guess what, adalah mengkritik cover buku Mizan itu.
“Mizan did a great job. But that picture makes me kinda look a hero. I’m not a hero. I’m a coward!” katanya. Art lalu bilang kalau ia pengecut karena hanya bisa berteriak minta tolong pada Tuhan ketika tank itu datang.
Saya cuma nyengir mendengarnya. Tidak terlalu sulit memahami makna religius di balik pengakuan kepengecutan itu. Dalam Islam sendiri, penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah (pasrah) adalah bentuk iman tertinggi. Tapi ketika penyerahan itu dilabeli dengan istilah “pengecut” seperti yang dilakukan Art, ya saya mau tidak mau nyengir. I never thought that way.
Lucunya, foto itu juga yang bikin istri Art -Peggy Gish- bebas. Peggy juga seorang aktivis CPT seperti Art, tapi untuk wilayah Irak. Peggy pernah diculik oleh gerilyawan Irak pada 2005. Ia lalu menunjukkan foto Art yang lagi menghadang tank itu pada para penculik, bilang kalau suaminya membantu warga Palestina. Penculiknya terkesan. Peggy dibebaskan.
Usai peluncuran buku, saya mendekati Art untuk wawancara. Gatra menuliskan berita peluncuran buku itu (dan wawancara khusus saya dengan Art) sepanjang dua halaman di edisi No. 37, 30 Juli 2008.
Sayang, artikel itu tidak muncul di Gatra.com, so I guess you need to read in in the magazine. Tapi kata pengantar Putut Wijanarko di buku itu, yang banyak menjelaskan sosok Art, dapat Anda baca di sini.
Saya kagum pada Art karena konsistensinya menjalankan ajaran agamanya. Barangkali itulah yang membedakan Art dengan aktivis perdamaian lainnya yang bernaung dengan ideologi hak asasi. Mereka mungkin melakukannya karena idealisme, sementara Art melakukannya karena memang begitulah ajaran agamanya.
Dan kata Art, para aktivis perdamaian yang faith-based seperti dirinya justru lebih mudah diterima oleh warga Palestina ketimbang aktivis perdamaian yang berideologi hak asasi. Ia juga yakin bahwa sebenarnya itu menunjukkan bahwa muslim dan penganut agama lain bisa hidup berdampingan secara damai.
Bagaimana dengan isu penyebaran agama Kristen? Jangan-jangan mereka juga berdakwah?
Well, sebelum ditanya, Art sudah lebih dulu menjelaskan kepada forum bahwa mereka bukan misionaris. Ia bilang kalau di Palestina tidak menyebarkan agama, melainkan menjalankan agenda pasifisme CPT.
Art juga mengakui kalau tidak semua warga Palestina menyetujui metode non-kekerasan. Yang melawan tentara Israel dengan senjata banyak, yang jadi pembom bunuh diri juga ada. Hanya dia bilang sepertinya warga Palestina banyak yang mulai mencoba jalur diplomasi atau non-kekerasan setelah perjuangan bersenjata tidak membawa hasil maksimal.
Pendapatnya tentang Israel? “Well, it’s hard to debate that Israel has done bad things there,” katanya.
Saya tidak ingin mengulang apa yang sudah saya tulis di artikel saya. Tapi karena artikel itu tidak available online, I think I’m gonna tell u a bit, terutama tentang apa yang Art kerjakan di sana.
Suatu hari ada pemuda Palestina distop di pos pemeriksaan, surat-suratnya ditahan, bajunya diambil (hingga telanjang dada) lalu dibiarkan saja menunggu di dekat pos. Alasannya sepertinya karena surat-surat pemuda itu bermasalah.
Waktu itu sudah malam dan Art kebetulan lewat di pos. Ia melihat pemuda itu jongkok dekat pos memeluk badannnya, menggigil kedinginan. Ia lalu mengecek ke pos dan ternyata tentara Israel justru tidak mempedulikan surat-surat si pemuda. Mereka memang sengaja membiarkan pemuda itu kedinginan di sana.
Art bilang kalau tindakan itu tidak benar. Tentara Israel membalas “urus dirimu sendiri saja”
(Tentara Israel tidak berani bersikap keras kepada Art karena ia warga Amerika, dan ia juga aktif melobi para komandan Israel -Art sering malu, tapi mengakui, kalau fakta dirinya adalah US citizen membuat ia dapat privilege di Palestina, jadi relatif aman dari sikap kasar tentara Israel).
Karena tidak digubris, Art -sesuai pelatihan yang ia terima- pun melakukan “aksi provokatif”. Ia membuka sweaternya lalu menyerahkannya ke si pemuda. Tentara Israel melihat tapi cuek saja. Art lalu membuka kausnya dan menyerahkannya kepada si pemuda. Tentara Israel tetap tidak menggubris.
Jengkel, Art akhirnya membuka pakaian terakhirnya (kaus singlet), sepatunya, dan kaus kakinya. dan menyerahkannya kepada si pemuda Palestina yang merasa konyol sekaligus malu. Kini ganti Art yang cuma pakai celana panjang dan kedinginan. “Saya orang keras kepala. Saya sudah nekat, kalau perlu saya menemani pemuda itu sepanjang malam di sana,” katanya.
Tentara di pos akhirnya kesal juga melihat kekonyolan seperti itu. Akhirnya mereka menyerahkan surat-surat si pemuda Palestiana itu dan menyuruhnya -Art termasuk- untuk pergi dari pos.
Saya lalu tanya soal pemuda itu. “Oh kami jadi kawan baik. Dia sering mengundang saya menginap di rumahnya,” kata Art.
Meski agama kami berbeda, tidak bisa dipungkiri Art sudah melakukan sesuatu yang berarti untuk warga Palestina. Bahwa dia melakukannya karena didasari ajaran agamanya, well that’s not relevant. Warga Palestina yang dibantu Art (ia pernah mencegah tentara Israel dari mengobrak-abrik rumah warga Palestina saat pemeriksaan untuk “mencari teroris”) insyaallah juga berterima kasih.
For that reason I think it’s nice just to have a picture with him.
Update: artikel saya tentang Art Gish ternyata diupload ke Gatra.com. You can read it here. Tapi wawancara khusus dengan Art tidak diupload, it’s available only in magazine.
Latest Entries
Categories
- all about blogging (3)
- art and literature (4)
- english (4)
- news and serious topics (2)
- personal (4)
- works related (3)
Archives
- December 2008 (3)
- November 2008 (1)
- October 2008 (1)
- September 2008 (2)
- August 2008 (4)
- July 2008 (4)



Aug 4th, 2008 at 9:34 pm
Wah…wah…wah… blog-nya mas Basf ternyata se-irama dengan “tarian” saya selama ini. Ada yang ringan, ada yang medium, dan ada yang berat.
Kalau membicarakan konflik Israel-Palestina memang tidak ada habis2nya. Like we all know, Christianity, Judaism and Islam have something in common, but there will always be “bad blood” between the three comparatively.
I, to be frank, am a Moderate-Moslem. That’s why I support the independence for a Palestinian state (which is, of course, entirely impossible in post-World War II era and under the world command of the United States of America). Someone like Art Gish is truly unique. We can all “fight” for a more well-established Palestinian “territory” and “independence” if we know the essence of each of these 3 major religions.
And, without mocking the policies of Arabian and Islamic countries, we could strive and succeed in establishing a so-called “impossible” Palestinian state under the following conditions:
1. Opening up diplomatic and trade relations with Israel, whilst filtering the influx of “bad” Zionism in each country;
2. Boycotting Israel’s policy which alienate the formation of an independent Palestinian state;
3. Major talks between the three religions: Judaism, Christianity and Islam not just to tackle peace problems, but also worldwide problems across nations. We are all obviously under the same faith of our “founding father”, Abraham/Nabi Ibrahim, aren’t we?
Art Gish is a phenomenon. His conducts should stimulate ideas for negotiating a freer and safer world in the Middle East, and also on Earth.
Salam.
Aug 5th, 2008 at 2:58 pm
bang, i really confuse of the word ‘muslim konservatif’ you used to define yourself and the word ‘Moderate-Moslem’ that used by sister patria above. since those word was never defined precisely by all people, i think we should use ‘moslem’ or ‘muslim’ only. if those words define moslem by their level of violation as response to certain matter or situation, it would be contradictive to the the following sentence ‘Saya kagum pada Art karena konsistensinya menjalankan ajaran agamanya’. i assumed that you are also agree to be consistant to the belief of islam. therefore, you also aware there are levels of violation response corresponding any situation that threathened the social and religious life. i just try to learn, bang. is it true?
Aug 6th, 2008 at 12:11 pm
met,
but i think patria is a man, not a woman.
sometimes you’re smart.
i’m a muslim, that’s it. conservative, moderate, or even fundamentalist, are only attribute i use to show my position -which in some cases are not truly clear- among the various muslim’s stance on many issues.
the more-conservative muslims consider smoking haram -thus i’m a liberal, or even sinful, to them.
but i tend to support anti-pornography legislation draft -so I’m a conservative to those who protest the draft.
such category is perhaps not needed. but we cant deny the fact that some muslims have stricter stance on several issues than other muslims.
but in my case, i dont use the word ‘conservative or moderate’ based merely on degree of acceptance (or refusal) regarding faith-based-violence. i use it, well simply because i think i’m a conservative -others may disagree.
i dont do drugs, beer, or wine. i dont tease girls, i try to keep my prayers 5 times a day (though sometimes i missed), i dont like sinetron (coz they’re silly), dont like creamer (prefer coffee only), dont like sandwich, burger, dont like bread with ’selai’ (prefer meses or sugar, hehe), confused why people like to live on high-rise apartment building (coz on ground is safer), etc etc, hehe.
but since you seem to be very eager to know my stance on ‘the so-called faith-based-violence’, well, i can tell you that there’s no simple answer. i’m not a muslim scholar, so i dont think i have the qualification to make ‘fatwa’ on that matter.
but in general, i can say that insyaallah islam is not a pasifism. prohpet Muhammad (SAW) went to war and that should tell u something. but the real issue is when or how a war is justified -that’s the questions that even muslim scholars disagree with each other.
about “saya kagum pada art karena konsistensinya menjalankan agamanya’, well i dont see any contradiction. art is a pasifist and he’s committed to it, and I respect his commitment, that’s it.
Aug 10th, 2008 at 5:54 pm
kayanya ‘penyerahan diri’ bukan pasivisme, apalagi pengecut.. seseorang yang berserah diri pada Allah justru tidak menyerahkan diri pada mahluk. dia harus berjuang..
nah, art gish ini juga berjuang, hanya saja metode yang digunakan adalah ahimsa-nya gandhi or jesus, sama seperti hamas yang berjuang tapi dengan metode berbeda.
arth gis surrender pada tank, dan teriak-teriak minta tolong pada Allah ketika dia MELAWAN tentara israel.
yup, kedua pihak sama-sama MELAWAN, dan ini ga ada urusannya dengan ‘penyerahan diri’. rrr.. iya gak sih??