Suatu hari seorang istri kehilangan uang Rp 300 ribu di dalam rumah. Sudah dicari tidak juga ketemu. Padahal ia ingat betul terakhir kali menaruh uangnya. Tapi sekarang kok tiba-tiba hilang?

Siapa yang ngambil? Masak sih ada pencuri masuk ke dalam rumah. Atau jangan-jangan, dicuri tuyul? Hehe..

Bingung, si istri lalu cerita pada suaminya -yang juga ikutan bingung. Kira-kira apa yang akan dilakukan si suami?

  • mencari lagi sampai ketemu
  • mencurigai kalau tuyul telah menginvasi rumah, thus berkonsultasi ke dukun (hiiiy..amit-amit dah)
  • baca Quran

Si suami akhirnya mengambil pilihan ketiga.”Tenang Bu, ntar Bapak baca Quran,” katanya pada si istri, mencoba menenangkan.

Aneh, ya? Apa hubungannya? Memangnya kalau baca Quran terus uangnya mak jegagik bisa balik sendiri?

Kalau anda bertanya begitu, berarti anda memang terbiasa dengan logika Cartesian. Relasi antara sebab dan akibat harus benar-benar nyata, bukan sekadar imajinatif. Dalam tingkatan ekstrem, pilihan yang diambil si suami di atas mungkin akan dikategorikan sebagai ‘cara berpikir mistis’, yang sering dilakukan para penganut animisme/dinamisme zaman purba.

Jadi kalau terjadi banjir, bukannya berhenti menggunduli hutan, mereka justru melakukan persembahan pada dewa-dewa bukit Olympus..hehe..

Tapi si suami dalam cerita ini hidup di zaman modern, tepatnya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dia adalah tetangga sebelah saya, sekaligus pemilik rumah kontrakan yang saya tempati. Namanya sebut saja Mr. H, berusia sekitar 50-an tahun.

Sehari-hari Mr. H bekerja sebagai ustadz kampung merangkap guru les bahasa Inggris untuk anak SD. Terkadang ia juga diminta berceramah di masjid-masjid. Beberapa kali waktu sholat Jumat di masjid kampung, Mr. H yang jadi khotibnya.

Setiap 4-5 hari sekali, kalau saya harus buang sampah, biasanya saya melewati halaman rumah mereka. Saya sering melihat dia duduk di depan rumahnya, komat-kamit baca Quran dengan suara pelan. Padahal itu siang hari bolong.

Mr. H memang seorang pembaca Quran yang tekun. Thus, ketika istrinya cerita kalau uang Rp 300 ribu secara misterius menghilang dari dalam rumah, it’s very likely that he turns to thing he does best -reading The Quran.

Selama seminggu setelah peristiwa hilangnya uang Rp 300 ribu itu, Mr. H terus membaca Quran. Mungkin dia menjadikan aktivitas baca Quran sebagai ajang ‘berkeluh kesah kepada Allah’ (Ya Allah, kok duit hilang sih.. mbok dibantu.. kan bentar lagi lebaran…) hehehe…

Mungkin dia benar-benar berharap uang itu bisa ketemu setelah baca Quran (siapa tahu dengan begitu pikiran jadi terang), atau mungkin dia membaca Quran karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Wallahu’alam. Soal niat hanya Allah yang tahu. Saya cuma tahu fakta-faktanya.

Yang jelas, setelah seminggu itu, Mr. H akhirnya mengkhatamkan Al Quran.

Terus uang itu ketemu? Hehehe…ternyata tidak. Uang itu tetap hilang secara misterius. Unsolved mystery. Cuma, kemudian sesuatu yang lain terjadi.

Seseorang mendatangi Mr. H dan memintanya menjadi penceramah di salah satu forum pengajian. Dia pun dapat honor. Uang Rp 300 ribu memang tetap hilang, tapi ‘uang lain’ muncul. Pintu rezeki baru terbuka.

:)

Kisah yang diceritakan Mrs. H waktu saya dan istri halal-bihalal ke rumah mereka ini memang lucu. Mrs. H sendiri sampai tertawa, mengingat bagaimana suaminya mengatasi masalah kehilangan uang dengan baca Quran.

Saya sendiri juga tertawa, nyaris ngakak bahkan. Lagipula kalau dipikir-pikir, Mr. H memang seorang penceramah. Jadi, tidak ada yang aneh ketika ada orang memberi order berceramah. Selama ini memang dari sanalah salah satu sumber rezekinya.

Lantas, bagaimana menempatkan aktivitas baca Quran selama seminggu yang dilakukan Mr. H dalam konsep hubungan sebab-akibat?

Apakah:

  • Baca Quran selama seminggu itu membuat pintu rezeki lain terbuka?
  • Atau order berceramah itu bersifat independen. Ia akan datang ke Mr. H baik dengan baca Quran atau tidak, thus tidak memiliki hubungan sebab-akibat

Terus terang, saya kok lebih condong pada opsi pertama. Memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa aktivitas baca Quran Mr. H memiliki kaitan (baik langsung atau tidak langsung) terhadap datangnya si orang pemberi order.

Tapi, well, seperti saya tulis di bagian judul, ini bukan logika Cartesian. Anda tidak bisa mengharapkan adanya relasi yang jelas antara sebab dan akibat. Bisa jadi ada orang lain yang juga pernah kehilangan uang dan juga baca Quran, tapi sampai khatam tetap saja ‘uang lain’ tidak juga muncul.

Kalau muncul inkonsistensi seperti itu, logika ilmiah akan menyatakan bahwa ‘baca Quran’ tidak vaild sebagai faktor penyebab ‘terbukanya pintu rezeki lain’. Sebab kalau memang ada relasi sebab-akibat di antara keduanya, seharusnya hal itu berlaku di mana pun dan untuk siapa pun.

Tapi, katakanlah ini insting -atau mungkin kecenderungan personal- saya menganggap relasi sebab-akibat muncul dalam kasus Mr. H. Meski saya tidak bisa menjustifikasinya secara ilmiah -which I never intend to do.

Lagipula, kalau ‘kepak sayap kupu-kupu di Brazil bisa dilihat mengandung apa-apa dengan terjadinya tornado di Texas’, maka baca Quran selama seminggu juga bisa dilihat ada apa-apanya (ga jelas, tapi kayaknya ada hubungannya) dengan datangnya seseorang pemberi order.*


  1. Gravatar Iconbunda

    Udah baca the secret?….di alam semesta ini semua ada hubungannya….everything is connected….wallahu’alam…
    (aku rajin berkunjung ya?)…

  2. Gravatar Iconbasf

    (hehe, gpp, justru senang kalau dikunjungi. biar diskusi sekalian). Nope, aku blm baca. apa judul lengkapnya? itu novel ya?

Leave a Comment


:o :cry: :arrow: :?: :? :roll: :evil: 80 :D :( :x :) ;) :twisted: :| :P :!: :idea: 8) :lol: :oops: :mrgreen: