Memberi makan kucing?

Untuk apa?

Terus terang saya bukan penyayang binatang. Meski juga bukan pembenci binatang. Sikap saya biasa saja. Binatang ya binatang, dunia lain, ga ada urusannya dengan saya.

Bahkan terkadang, iba saya muncul kalau melihat binatang dalam kondisi mengenaskan. Hanya, iba itu tetap sebatas iba, tak berubah jadi tindakan.

Pernah suatu kali seekor kucing masuk rumah kami di Kaliwungu. Kondisinya menyedihkan. Badannya kurus, ada luka, dan kelihatan ruas tulangnya. Ia mengeong lemah dan jalannya pun sudah tertatih. Sepertinya hampir mati.

Duh.. saya jadi sedih lagi kalau teringat itu.

Saya hanya bisa iba, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Abang saya yang akhirnya bertindak. Ia mengangkat kucing sekarat itu dan menaruhnya begitu saja di pinggir jalan, sekitar 20 meter dari rumah. Ia tidak ingin kucing itu mati di dalam rumah, nanti bikin tambah kerjaan.

Kini setelah saya menikah, alhamdulillah istri lebih sigap menghadapi ‘invasi kucing’ seperti itu. Pernah suatu kali habis subuh, ada kucing mengeong persis di depan pintu. Setelah diintip, eh, anak kucing lagi! Badannya juga kurus, kurang makan. Induknya mungkin entah ke mana.

Istri langsung mengambil ikan dan meminta saya mengantarkannya ke luar. Saya oke saja. Paling tidak derajat saya naik sedikit. Dulu saya tidak berbuat apa-apa ketika rumah didatangi kucing sekarat. Sekarang, minimal saya terlibat sebagai ‘tim pengantar makanan’.

(meski setelah saya keluar hendak ngasih ikan, eh, si kucing piyik itu justru pergi, hingga saya sempat muter-muter nyari. Padahal subuh, masih gelap lagi, meski akhirnya ketemu sekitar 10 meter dari rumah! Hhh.. dasar kucing!)

Beberapa kali akhirnya rumah kami didatangi kucing kampung, minta makan. Kalau ada ikan lebih, atau tulang-tulang, ya dikasih. Kalau ngga ada, ya apa boleh buat.

Tapi untungnya ‘invasi kucing kampung’ untuk minta makan itu tidak sering terjadi. Sepertinya salah satu tetangga, yakni engkong tua pemilik warung, yang berjarak dua rumah dari kami, juga ikut memberi makan. Beberapa kali saya lihat si engkong jalan bawa plastik dan kucing pada mengekor.

Selama ini, saya melihat aktivitas memberi makan kucing itu dalam level ‘humaniora’, semacam perikehewanan di kala senggang, hehe… atau katakanlah semacam aktivitas iseng-iseng berbuat baik, daripada bengong nganggur.

Tapi kemudian pengetahuan itu datang.

Selama bulan puasa kemarin, saya termasuk rutin menonton acara “Tafsir Al-Misbah” di Metro TV yang dipandu Dr. Quraish Shihab. Acara itu start jam 3 pagi, jadi nonton sekalian makan sahur.

Dalam salah satu episode, ada peserta di studio bertanya kepada Quraish tentang “jalan-jalan menuju surga”.

“Waduhhh…banyak, Bu. Banyak sekali jalan menuju surga,” kata Quraish.

Ia lalu mencontohkan hadist di mana seseorang bertanya pada rasulullah apa saja yang harus dilakukan kalau ia masuk Islam, dan rasul menjawab kalau orang itu harus mengucap syahadat, sholat, puasa, zakat, dan menunaikan ibadah haji kalau mampu (rukun islam).

Si orang yang mau masuk Islam itu akhirnya berkata kalau ia akan melakukan persis seperti yang diucapkan rasul. “Tidak akan saya tambahi, dan tidak akan saya kurangi,” katanya, lalu pergi.

Lalu rasul berkata pada para sahabat kalau orang itu betul-betul melakukan apa yang ia ucapkan, maka ia akan masuk surga.

Quraish lalu memberi contoh-contoh lagi (karena pertanyaannya memang general betul).

“Banyak, Bu. Banyak sekali jalan menuju surga,” katanya.

“Memberi makan anjing, memberi makan kucing, juga bisa jadi jalan menuju surga,” katanya.

“Ada orang yang masuk surga karena memberi makan anjing, sebaliknya ada juga orang yang masuk neraka karena menyiksa anjing,” katanya lagi.

Sampai di sini saya makin serius mendengarkan.

Quraish lalu menceritakan sebuah kisah tentang seorang ulama (tidak disebut siapa nama ulama itu) yang bermimpi bertemu salah satu tokoh besar dalam pemikiran Islam, yakni almarhum Imam Al-Ghazali, si pengarang kitab Ihya Ulumuddin.

Quraish memang tidak menyatakan kisah ini valid. Tapi ia juga tidak menyatakan kisah ini bohong. Ia memang hati-hati. Jadi penilaian diserahkan kepada masing-masing orang. Toh tidak berdosa kalau tidak percaya, karena ini adalah kisah, bukan hadist.

Alkisah (karena ini kisah), ulama itu bertemu Al-Ghazali dalam mimpinya, lalu menanyakan pertanyaan berikut:

“Bagaimana keadaanmu Al-Ghazali?”
“Ohh…di sini [alam kubur] aku mendapat banyak rahmat dari Allah,” kata Al-Ghazali gembira.
“Tentu saja kau mendapat banyak rahmat. Ilmumu luas, kau mengarang banyak sekali kitab,” kata si ulama lagi.
“Bukan…bukan karena itu aku mendapat rahmat,” kata Al-Ghazali.
“Lalu karena apa?” tanya si ulama.
“Karena lalat… ” kata Al-Ghazali.

Yup, lalat, si makhluk kecil bersayap yang sering menjengkelkan itu, yang sering merubungi makanan dengan suara mendengung. Dalam mimpi si ulama itu, bukan keluasan ilmunya yang membuat Al-Ghazali mendapat banyak rahmat dari Alllah. Melainkan seekor lalat.

Dikisahkan bahwa ketika Imam Al Ghazali sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat menclok (hinggap) di penanya dan menghisap tintanya. Al Ghazali melihat itu, tapi diam saja, membiarkan si lalat menghisap tinta sampai selesai.

“Karena itu aku mendapat rahmat dari Allah,” kata Imam Ghazali.

Hadirin di studio Metro TV yang mendengarkan agak bengong. Saya juga rada bengong di depan TV. Sebelumnya tidak pernah saya mendengar kisah ini.

Benarkah kisah itu? Apakah si ulama itu (Quraish Shihab tidak menyebut namanya) benar-benar bermimpi demikian?

Entahlah. Tapi namanya alkisah, sebaiknya tidak usah 100% percaya. Juga tidak usah 100% menolak. Fifty-fifty is okay, hehe.

Hanya, terus terang saya senang mendapat kisah semacam itu. Ini perspektif baru. Sebelumnya memberi makan kucing kampung dikategorikan oleh sel-sel kelabu Mr. Basf sebagai ‘perikehewanan iseng-iseng di kala senggang’.

Ceramah Quraish Shihab di Tafsir Al-Misbah membuka mata saya yang (sebelumnya) merem, hehe.. bahwa memberi makan kucing kampung is MORE THAN PERIKEHEWANAN.

It’s IBADAH. Insyaallah ada pahalanya.

Setelah perspektif berganti, saya tidak lagi menganggap aktivitas memberi makan kucing kampung sebagai sesuatu yang remeh. Meski mungkin nilai ibadahnya kalah (dibandingkan misalnya memberi makan fakir miskin), yah, paling tidak kini saya secara agak lebih tepat mengkategorikannya sebagai ‘investasi akhirat kecil-kecilan di kala senggang..” hehehe

Sebagai tambah-tambah lah, di samping sholat, puasa dll.

(siapa tahu balasannya luar biasa gede.)

Tapi entah kenapa, setelah itu makin jarang ‘invasi kucing kampung’ ke rumah. Bisa dihitung dengan jari. Yah tidak apa-apa. Kalau keseringan bisa-bisa nanti saya jadi merasa terganggu diinvasi terus.

Lagipula saya masih dalam tahap belajar dalam urusan perkucingan ini. I’m basically not an animal lover, and not an animal hater either. I’m neutral.

Dampak paling jelas, setelah mendengar kisah Quraih Shihab itu, kalau ada kucing mengeong dan istri meminta saya mengantarkan makanan, saya melakukannya dengan ‘lebih sungguh-sungguh’, bukan lagi karena ‘daripada bengong’. Karena sekarang saya tahu itu adalah ibadah.*


  1. Gravatar Iconiyong

    Saling memberi kasih terhadap semua makhluk itu indah, manusia makhluk yang paling tinggi derajatnya, jadi sudah seyogyanya kita menyayangi dan mengayomi semua makhluk, baiK itu binatang atau tumbuhan.

    Apalagi kucing dan anjing jalanan, mereka letih, haus dan lemas karena kelaparan!!!! tidak ada daya bagi mereka!!!! Mereka pasti bingung dan takut!!!!!Apa salahnya kita berikan mereka makanan yang kita punya. Berbagi rejeki yang kita punya!!!!! Niscaya, pertolongan kita memberikan kehidupan bagi mereka. dan itu adalah TABUNGAN AMALAN KITA,MELEMPANGKAN JALAN KITA KE SURGA, MENOLONG KITA MENJAWAB PERTANYAAN DIALAM KUBUR karena mereka akan bersuara untuk kita, meminta Allah untuk mengingat jasa kita.

    Kalau Quraish Shihab memberi contoh seekor lalat, saya jadi ingat suatu cerita yang saya dapatkan dari guru ngaji saya.

    Seorang wanita penghibur (maaf, pelacur) memberikan semangkuk minum dan makanan kepada seorang anjing tua yang terlihat kurus dan letih. Anjing itu dipeliharannya dan dikasihi dengan belain ikhlas dari wanita itu!!! Wanita ini membagi rejeki yang dia dapat dengan membagi makanan ke anjing tersebut itu!!!!!lalu disini para malaikat berseru , Akan dihisab kamu sesuai dosa dosa mu , tapi setelah selesai urusan kamu dan Tuhanmun, maka niscaya akan disediakan syurga untukmu oleh Tuhanmu.. Subhanallah!!!! Betapa besar dosa seseorang tetap akan disediakan syurga karena telah dengan ikhlas menolong ciptaan ALLAH.

    Adalagi cerita, bahwa para malaikat diutus oleh Allah untuk menjelma sebagai orang tua atau bahkan hewan yang kelaparan dan kehausan, hanya untuk mengetes umatnya!!!

    Makanya mari ihklaskan hati kita, lapangkan pikiran kita dan mantapkan niat kita untuk SELALU MENOLONG SEMUA MAKHLUK TUHAN baik manusia, hewan dan tumbuhan!!!!!!!! Itu adalah tabungan pahala yang akan membawa impact dan balasan yang tidak terduga!!!!!!!!baik didunia ataupun diakhirat!!!!!!!

    Makhluk juga punya rasa sakit, lapar,takut dan lelah….manusia makhluk yang kuat, berpikiran tinggi jadi mari kita saling mengasihi dan menganyomi.

    Wassallam

  2. Gravatar Iconbasf

    wa’alaikumsalaam mas iyong,
    trims utk komentarnya yang luar biasa panjang. :) mudah2an, meski kecil dan jarang, investasi ala ‘kucing kampung’ kita semua dapat balasan gede…. amin

Leave a Comment


:o :cry: :arrow: :?: :? :roll: :evil: 80 :D :( :x :) ;) :twisted: :| :P :!: :idea: 8) :lol: :oops: :mrgreen: