Ohh privilege…

Akhirnya saya dapat juga tiket kereta untuk mudik ke Semarang (Kaliwungu). Fajar Utama, duduk, berangkat tgl 27 Sept besok. Hebatnya lagi (kalau bisa dibilang hebat), saya baru beli tiket hari ini tgl 16 Sept.

Mereka yang biasa mudik biasanya tahu kalau that’s impossible. Ga mungkin beli tiket KA tgl 16 masih bisa dapat untuk berangkat tgl 27. Sebab tiket mudik ke Jawa tgl 27 ke atas biasanya sudah habis jauh-jauh hari (bahkan, biasanya sudah habis dipesan sejak hari pertama puasa). Kecuali tentu, kalau saya beli dari calo.

But no. Saya tidak beli dari calo. Saya beli dengan harga standar. Yakni Rp 130 ribu per kursi. Bedanya, saya menggunakan jalur belakang. I have contacts in PJKA.

Saya merasakan betul ironi itu ketika mengantri menyerahkan formulir pemesanan tiket di loket. Di sebelah saya ada seorang bapak (setengah tua), dan seorang ibu (juga setengah tua) juga mengantri. Mereka hendak pergi ke Malang.

Bapak 1: “Mbak, mau pesan tiket untuk tgl 23,” katanya.

Petugas loket: “Sudah habis, Pak. Tiket sudah habis untuk tgl 18 ke atas. Yang ada tinggal tiket berdiri.

Bapak 1: “Ngga apa-apa, Mbak. Berdiri ngga apa-apa.”

Petugas loket: “Kalau tiket berdiri, belinya nanti pas mau berangkat, Pak. Bapak tgl 23 langsung aja datang, nanti beli tiket,”

Bapak 1: “Oh begitu ya. Makasih, Mbak,” katanya, tetap tersenyum, lalu mundur dari antrian.

Berikutnya giliran Ibu itu,

Ibu 1: “Mbak, mau beli tiket untuk tgl 20,” katanya sambil menyerahkan formulir pemesanan.

Petugas loket: “Sudah habis, Bu. Sudah ga bisa pesan untuk tanggal 18 ke atas. Tinggal tiket berdiri.”

Dan ibu itu tampak kaget, tercenung, tidak bisa berkata-kata. Ia sepertinya belum berpengalaman mudik dan tidak menduga akan mendapat jawaban begitu. Ia hanya berdiri saja sambil memegang formulir pemesanan tiketnya yang ternyata ga berlaku… sekilas saya melirik ke arahnya.

Lalu saya maju, menyerahkan formulis pemesanan tiket ke petugas loket. Saya tidak berkata apa-apa, hanya menyerahkan saja. Petugas loket membacanya sebentar, lalu menyadari kalau ada “tulisan lain” di formulir pemesanan itu. Tulisan itu bunyinya sebagai berikut: “Atas nama Mr. X… (X adalah pejabat penting di stasiun itu).

Lalu, seperti dijanjikan Mr. X ketika kami bertemu, formulir pemesanan saya memang segera diproses. Tidak lama kemudian tiket saya pun diprint, lalu diserahkan. Saya membayar harga tiket, sebesar Rp 260 rb (untuk dua orang), lalu beranjak pergi.

Urusan saya di stasiun beres sudah. Tidak sampai 1 jam. Saya bertemu Mr. X sekitar jam 11 siang, ngobrol barang 10 menit, lalu tidak sampai setengah jam sudah dapat tiket (duduk).

Mbak petugas loket itu pun kembali ke aktivitas semula. Setiap ada orang datang untuk beli tiket, ia mungkin akan berkata, “Sudah habis Pak, Bu. Sudah ga bisa pesan untuk tgl 18 ke atas. Tinggal tiket berdiri.”

Tapi saya tahu itu bohong. Mereka yang tahu banyak lika-liku PJKA juga tahu kalau itu bohong. Tiket sebenarnya belum habis. Tiket hanya habis karena dikapling-kapling untuk jatah para pejabat PJKA mulai dari petugas loket, satpam, pengatur lalu-lintas KA dll (karena kalau tidak salah, semua punya jatah).

Saya pernah mendengar gerutuan, keluhan, dari mereka yang terpaksa membeli tiket berdiri. Saya hanya diam saja. Duhh, dalam hati saya sebenarnya juga merasa tidak enak. Saya adalah pihak yang juga diuntungkan dari praktik kapling2 itu. Waktu masih single dulu, saya jarang menggunakan jalur belakang. Biasanya go show, langsung datang ke stasiun. Mau berdiri kek, ga masalah. Wong lanang, je.

Tapi setelah punya istri, mosok saya membiarkan istri berdiri berdesak-desakan kayak ikan dendeng sampai Semarang? Hell no. Lazimnya para suami, saya juga ingin istri bisa nyaman saat mudik. Saya bahkan sudah menyiapkan plan B seandainya Mr. X tidak bisa membantu. Saya masih punya kontak lain di stasiun (meski levelnya tidak setinggi Mr. X) yang mungkin bisa membantu seandainya plan A gagal.

Singkat kata, meski berada di luar PJKA, saya benar-benar berusaha agar bisa ikut menikmati ‘kue kapling’ itu. I push myself agar bisa masuk ke dalam salah satu bagian kecil dari ‘masyarakat elit’ yang bisa pulang mudik naik kereta dengan duduk nyaman -meski beli tiketnya belakangan.

(Teman saya, yang istrinya lagi hamil 7 bulan, bahkan push lebih jauh dengan menggunakan kontak-kontaknya di sektor perbankan agar bisa mudik lewat program mudik salah satu bank terkenal).

Tapi, bagaimana dengan nasib mayoritas?

Saya bukan satu-satunya yang beristri. Bapak tua yang undur diri dari antrian itu, yang akan nekat berdiri tgl 23 nanti meski usianya sudah agak uzur, mungkin juga punya istri yang sudah tua. Atau anak yang masih kecil, atau cucu. Dan mereka, karena ‘cuma warga biasa’, mungkin akan berdesak-desakan jadi dendeng di dalam kereta.

(Duhh, sori..sori… pak…)

Lalu ibu tua itu. Ah ya… ibu itu. Sulit untuk tidak merasa kasihan melihat ibu itu hanya berdiri tercenung, meminggir di sebelah antrian, tidak tahu harus berbuat apa. Dialah sebenarnya topik utama tulisan ini.

Saya sebenarnya juga kasihan melihat ibu tua itu. Saya mungkin bisa membantu dengan menyerahkan tiket duduk saya kepadanya, tapi itu berarti saya membuat istri harus berdiri, dan saya belum punya cukup kebesaran hati (juga ketegaan) untuk melakukan itu. Barangkali, inilah perasaan bersalah anggota ‘masyarakat elit’ yang mendapatkan privilege ketika menyaksikan orang lain yang cuma ‘warga biasa’ harus bersusah-payah.

Mbak petugas loket sepertinya juga kasihan melihat ibu tua itu. Lalu, karena Allah berkehendak memberi ilham, akhirnya saya pun menyaksikan salah satu kejadian jarang di loket pemesanan.

Mbak petugas loket itu memberi isyarat agar ibu itu mendekat. Lalu ia berkata, “Ya sudah, ibu mau pesan tanggal berapa terserah, masih bisa,” katanya tiba-tiba.

Ibu tua itu terlihat agak bingung sebentar, tapi lalu sadar kalau ia sebenarnya dibantu. “Tanggal 20 mbak,” katanya cepat. Formulir pemesanan diproses, print, bayar, lalu ibu tua itu pun mendapat tiket duduknya untuk tanggal 20. Ia agak tersenyum, tidak lagi tercenung seperti tadi.

What an irony… saya harus berusaha melobi kontak-kontak saya di PJKA untuk dapat privilege, setengah ketar-ketir kalau lobi gagal hingga hanya menjadi ‘warga biasa’ (meski alhamdulillah akhirnya berhasil), sementara ibu tua itu yang cuma ‘warga biasa’ justru mendapat privilege secara tidak terduga-duga, karena Allah memberi ilham kepada mbak petugas loket untuk memberikan kaplingnya.

Saya jadi teringat almarhum ibu saya… Beliau juga ‘warga biasa’ yang tidak punya banyak resources, namun juga mendapatkan privilege secara tidak terduga-duga. Dulu di tahun 1980-an, ibu membeli kios di pasar Kaliwungu seharga Rp 5 juta yang harus dicicil per bulan ke BPD Kendal.

Ibu pernah sampai satu tahun lebih tidak membayar cicilan kios karena uangnya habis untuk menyekolahkan kami bertiga, anak-anaknya. Waktu almarhum mengurus keterlambatan cicilan ke BPD, kepala bagian kredit bersikap formal, sesuai peraturan, bahwa ada denda dll. Ibu akhirnya minta bertemu dengan kepala BPD, berusaha minta keringanan.

Setelah bertemu, ternyata kepala BPD Kendal adalah kawannya ketika SD. Ibu padahal sudah lupa, tapi si kepala BPD masih ingat karena dulu waktu masih SD ia beberapa kali pinjam buku. Privilege tidak dicari, melainkan datang sendiri dari jalur yang tidak disangka-sangka. Keringanan pun didapat, telat nyicil setahun atau lebih ga masalah, karena si kepala BPD akhirnya memberikan instruksi kepada kepala bagian kredit kalau ibu saya adalah ‘kasus spesial’.

Antara saya, yang berusaha mencari privilege dengan memaksimalkan resources, dibandingkan dengan almarhum ibu, atau ibu tua di stasiun itu, yang privilege datang dengan sendirinya, ketika dipertandingkan dalam kehidupan nyata, biasanya orang-orang seperti saya yang kalah. Mereka adalah warga ‘masyarakat elit’ yang sesungguhnya, yang dengan tenangnya survive di dunia yang sering tidak fair ini bukan karena punya banyak resources (seringkali justru tidak punya), tapi karena Allah membantu dari arah yang tidak pernah mereka sangka.

Dan biasanya memang butuh level keimanan, atau mungkin maqom menurut istilah orang NU, yang tinggi agar privilege bisa datang sendiri ketika sangat dibutuhkan.

Level saya belum sampai segitu. Masih harus berusaha keras, tabrak sana-sini, untuk survive. Masih harus merasa bersalah, tidak enak, ketika privilege akhirnya didapat. Sedang mereka tidak. They’re peaceful and happy.

Mungkin saya bisa seperti mereka suatu saat nanti (amin). Atau mungkin saya bisa mencoba jalur lain. Beli mobil misalnya. Dengan begitu saya bisa mudik tanpa tiap tahun harus berusaha lobi-lobi agar masuk ke dalam ‘masyarakat elit perkeretaapian Indonesia’ dan tidak ada lagi perasaan tidak enak. Tapi itu nanti. Gaji saya belum mencukupi untuk itu.*


  1. Gravatar Iconcemara

    :D
    i pray for you, as one of ‘elite society’, anything you want: the car, the maqom, etc. may he bless your soul..

  2. Gravatar Iconbasf

    amin, met… amin…

  3. Gravatar Icontutik

    itulah anugrah kecerdasan yang Tuhan kasih buat manusia. bagaimana bijaknya yah?

  4. Gravatar Iconbunda

    Kalau aku…akan berusaha sekuatttssss tenaga untuk beli tiket jauh-jauh hari….sebelum ramadhan bahkan…..agar dapat tiket tanpa previlege….mas basfin kan wartwan? bisakah diam saja melihat KKN nyata di depan mata?…..semoga kita tak dimintai pertanggung jawaban atas kdzoliman yang terjadi di depan hidung kita nanti…… Amin…wallahu’alam

  5. Gravatar Iconbasf

    wah lin, kritik tajam macam begini memang sangat khas dirimu… pokoke harus lurus dan halal, no matter what! :D

    rencananya tadinya juga begitu. cuma pas ngantri sebagai ‘warga biasa’ ke stasiun, awal puasa, tiket ternyata juga sudah habis.

    karena tidak tega membiarkan istri berdiri (plus fakta bahwa i do have contacts), makanya opsi jalur belakang diambil. seandainya masih single dan bisa dengan santai hanya memikirkan diri sendiri, mungkin jadi dendeng di kereta ya gpp.

    mengenai KKN yg terjadi, yah, itu memang budaya PJKA yg kukira semua orang sudah tahu. apakah aku juga akan dimintai pertanggungjawaban akan kezaliman itu? bisa jadi iya, wong ikut menikmati.

    tapi aku diam-diam agak berharap Allah bisa memahami kalau diriku tidak pernah ingin merampas hak penumpang lain (PKJKA-lah yang melakukannya dg sistem privelege), bahwa aku sudah berusaha jadi warga biasa dulu (meski kurang cepat datang, hingga tetap kehabisan tiket), dan hanya berusaha melindungi istri (yang secara fisik lebih lemah utk jadi dendeng) agar tidak terzalimi oleh sistem itu dengan menggunakan kelebihan yang diberikan Allah kepadaku –contacts.

    Amin…wallahu’alam.

    begitu, lin, penjelasanku. mungkin kepanjangan. tapi memang there’s no easy way for me to answer to this issue.

  6. Gravatar Iconbunda

    ;) Sorry basf…..cuma berbagi aja….
    Jangan marah ya….hehehe

  7. Gravatar Iconbasf

    ndak marah lah. tenang aja. in fact, i really do appreciate your input.

Leave a Comment


:o :cry: :arrow: :?: :? :roll: :evil: 80 :D :( :x :) ;) :twisted: :| :P :!: :idea: 8) :lol: :oops: :mrgreen: