The Dark Knight is C+

Kemarin akhirnya saya nonton The Dark Night di Planet Hollywood. Seperti mudah diduga, bioskop penuh!

Tidak mengherankan kalau film yang dirilis pada 18 Juli dengan biaya US 185 juta ini sudah meraup keuntungan sampai US 254 juta -per 22 Juli 2008.

Ck..ck.. ck…

Dahsyat. Warner Bross bakal sugih tenan.

Foto yang Anda lihat ini, yakni adegan ketika Joker (Heath Ledger) berhasil ditangkap oleh Komisaris Gordon lalu dimasukkan ke sel, menurut saya adalah salah satu adegan terindah.

It’s simply beautiful.

Saya begitu terpesona menyaksikan adegan Joker yang menunduk dengan khidmat di selnya, seakan berdoa, tenggelam di dunianya sendiri.

Ia terlihat begitu solid, penuh dedikasi, sekaligus sangat berbahaya…

Related info: di adegan lain, bos mafia Salvatore Maroni dengan tepat mendeskripsikan karakter Joker sebagai “tak seorang pun berani mengkhianatinya”

Tapi, meski beberapa adegan The Dark Knight membuat saya terpesona, saya tetap berusaha kritis menilai film ini secara keseluruhan. Dan sebagai orang yang:

saya terus terang agak kecewa. Seharusnya The Dark Knight hanya mendapat rating C+ -dan insyaallah itu sudah fair.

Ada beberapa alasan kenapa saya menganggap C+ adalah rating yang tepat. Pertama, film ini tidak compact. Saya tidak tahu apa yang ada di benak Christopher Nolan hingga ia tega membuat aksi kriminal Joker ibarat sulap -mak jegagik langsung ada.

Adegan ketika Joker memutuskan untuk “tidak mau mengetahui sosok Batman sebenarnya” dan mengancam akan meledakkan rumah sakit, benar-benar membuat saya kesal.

Dalam keseluruhan film, Joker memang digambarkan sebagai sosok yang chaotik, unpredictable, tidak terstruktur. Namun ketika sampai pada aksi kriminal, aksi itu disajikan sebagai kreasi matang dan terencana. Singkat kata “well-organized”.

Parahnya, Nolan tidak sekali pun menunjukkan sisi “well-organized” Joker. Tidak ada clue yang diberikan kepada penonton untuk mendukung sisi ini.

Akhirnya Joker ibarat tokoh kartun. Begitu ada orang yang hendak membongkar identitas Batman di televisi, ia tiba-tiba langsung angkat telpon. “Hoi, bunuh orang itu atau aku bakal meledakkan rumah sakit!”

Lalu habis menelpon, dengan enaknya ia sudah memiliki detonator yang mengendalikan puluhan bom di rumah sakit pemerintah kota Gotham.

(Aneh, ya. Konyol. Ga masuk akal. Masang bomnya kapan? Memang kita nonton kartun?)

Yang lebih mengesalkan lagi, penonton tidak mendapat gambaran tentang seberapa banyak sebenarnya anak buah joker. Sepuluh? Dua puluh? Tidak ada sama sekali adegan yang menunjukkan interaksi, atau cara Joker me-manage anak buahnya.

I will say that Joker’s activities lacked damn attention of details.

Terlalu banyaknya aksi kriminal Joker itu sendiri akhirnya juga membuat The Dark Knight seperti melodrama: berpanjang-panjang, meliuk-liuk, dan akhirnya kehilangan klimaks.

Akting Heath Ledger sendiri, well, bukannya hendak menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal, sebenarnya tidak bagus-bagus amat. C+ lah, sama dengan rating filmnya.

Ledger memang berhasil menunjukkan sosok Joker sebagai musuh tersadis Batman. Tapi ia gagal mengartikulasikan sisi lain Joker yang sebenarnya indah -his deadly humor.

Nyaris dalam keseluruhan film (kecuali satu), kita tidak akan mendapatkan humor Joker yang deadly. Dan ini adalah kelemahan yang saya pikir serius, karena sosok Joker sebenarnya tidak hanya sadis, melainkan lucu -deadly funny, literally.

Q: Apakah Ledger berhasil menampilkan sosok Joker sebagai musuh tersadis Batman?
Y: Yup, definitely.

Q: Apakah Ledger berhasil menampilkan sosok dark humor Joker?
Y: Nope, he didnt. Sepertinya sutradara menganggap unsur itu tidak penting.

Penonton dipaksa menelan fakta bahwa yang lucu dari sosok Joker hanyalah riasannya dan bibirnya sobek tersenyum. Tapi tidak tindakannya. Nothing on his actions would show he’s funny.

Dalam hal inilah Joker versi Jack Nicholson lebih unggul.

(Hore! Hidup Jack Nicholson, one of my favourite actors!!!)

Adegan Batman (1989) ketika Jack Nicholson menyadari bahwa wajahnya telah rusak karena cairan kimia, lalu tiba-tiba tertawa panjang, terbahak, melengking, tawa yang antara lucu sekaligus pedih hingga seperti gila, setidaknya sampai saat ini, is still BELUM TERTANDINGI!!!

Lalu adegan ketika Nicholson membunuh salah satu pesaingnya dengan cara menyetrum sampai gosong, dan dengan lucunya ia mengajak mayat gosong itu bercakap-cakap, berpura-pura takut, lalu akhirnya menghancurkan kepala yang tinggal tengkorak itu dan tertawa –what a lovely scene. A perfect visual interpretation of “deadly humor”.

Related info: dalam wawancara di ISBN.net, Ledger mengatakan kalau ia juga mengangumi akting Joker oleh Jack Nicholson. Kata Ledger, “his [Nicholson's] portrayal of the Joker was perfect for Tim Burton’s world

Untuk mendalami karakter Joker, Ledger memang berusaha keras keluar dari stereotipe Jack Nicholson. Ia mengurung diri di hotel selama 6 minggu berbekal dua komik Batman yang menampilkan pemunculan penting Joker, yakni Batman: The Killing Joke dan Arkham Asylum: A Serious House on Serious Earth.

Saya menduga mungkin karena ia terlalu serius “menghindari” steroripe Jack Nicholson, jadinya joker ala Legder jadi lebih berat ke sisi psyco dan skizofren, and lack humor.

Alasan lain lagi kenapa hanya C+, karena pemeran Harvey Dent, yakni Aaron Eckhart, sama sekali tidak bagus. No explanation. Just watch the movie itself.

Kehadiran Harvey Dent yang di film itu bertranfromasi menjadi Two-Face juga ikut menambah bertele-telenya The Dark Knight. Too much sub-conflict.

Apalagi ketika ending film ini lebih merupakan “respon” atas tindakan Two-Face alih-alih Joker. Ini membuat saya makin kesal. Jadi tidak jelas siapa sebenarnya penjahat utama di film ini: Two-Face atau Joker?

Well, Anda tentu boleh tidak sependapat dengan saya. Tapi saya pikir, sebaiknya jangan nonton The Dark Knight di bioskop. Nonton DVD-nya saja (bajakan atau asli, terserah) is enough.


  1. Gravatar Icondebukaki

    wah, aku terlanjur nonton! emang sih, di film itu banyak teka-teki (karena emang mbingungi). aku paling sebel ketika harvey dent dan doinya tiba-tiba tersekap,
    aku ga tahu, kapan, dan gimana? emang kunyuk!

    film ini ibarat kartun yang sok berfilsafat. si joker aja dipaksa berfilsafat sehingga bolak-balik bilang, “do u know why I get this scar??” idih..

    batpod bisa jadi motor? kartun banget! lha wong si batman duduknya di tengah, dan
    roda batpod 4 di pinggir semua, gimana sih??

    si batman jatuh dari ketinggian sama, tapi gak modar sementara si harvey modar? mbok ya ditambah adegan sayap batman mekar dikit, sebelum jatuh, gitu lho.. biar logis dikit..

    tapi ya itu.. film emang ga harus logis.. dan massa emang ga logis!!! :D

  2. Gravatar Iconbasf

    You know what the problem with Hollywood is? They make shit. Unbelievable, unremarkable shit.

    Now I’m not some grungy wannabe filmmaker that’s searching for existentialism through a haze of bong smoke or something.

    No, it’s easy to pick apart bad acting, short-sighted directing, and a purely moronic stringing together of words that many of the studios term as “prose”.

    No, I’m talking about the lack of realism. Realism; not a pervasive element in today’s modern American cinematic vision.

    - Opening dialogue by John Travolta in Swordfish :)

  3. Gravatar IconPatria Asmara

    Hmmm… I have to disagree and also disagree with you at the same time. C+? Mungkin dari sisi cerita iya. Mungkin tidak dari sisi dialog dan skenario. Before you go to see a movie, you must be careful not to be influenced too much from the movie’s hype and reviews so that you can post and give your own review at the end of the movie.

    Kalo menurut aku, berikut inilah penilaian yang fair untuk “The Dark Knight”:

    A- ==> Penyutradaraan/Directing.
    B ==> Skenario
    B ==> Acting, yang perlu ditekankan akting yang amat bagus adalah mendiang Heath Ledger. Bale terkesan biasa saja.
    B ===> Spesial efek.
    A+ ==> Musik/soundtrack. Terus terang, musiknya dari adegan per adegan benar2 pas sesuai dengan the ups and downs of the movie.
    D ==> Cerita. Sejak kapan disinggung suatu negara seperti Hong Kong dan China dalam komik aslinya Batman? Sungguh tidak aneh dan sangat amat aneh.
    C+ ===> Lainnya (art direction, make-up, sound effects, costume, etc)

    Maka…

    Rata-rata: B.

    Itupun sudah melalui pengamatan dan perbandingan dengan rottentomatoes.com

    Well, sekali lagi ini adalah review. Review tetaplah review. Bisa fair dan tidak.

    Salam. :D

  4. Gravatar Iconbasf

    Thanks for ur input. Senang juga kalau ada yang berbeda. :)

    I think it’s a common knowledge not to be be influenced by hypes and other reviews before going to see the movie. Seems there was a wrong impression on your reading coz I quoted yahoo movies (and other sources).

    Well, I dont read them. I just see their rating and a bit surprised to see The Dark Knight got A-, which I think is not accurate, and that’s the reason I wrote a version of my own.

    Saya justru tidak sependapat merating film via sub sub-subnya seperti penyutradaraan, soundtrack, akting dll. It’s not math. You ought to be careful not to see movie as combination of “parts”. You gotta simply grab it as a whole.

    And as a whole, it’s still C+.

    Kalau di yahoo.movies, C+ berarti “flawed but worthy”. Sedang B is “good”. The Dark Knight is not good. It is flawed:
    subplot yang mengambil alih
    struktur naratif tidak koheren
    constant climax -yang berarti sama saja tidak ada klimaks
    but worthy karena good visual dan directing Nolan juga oke.

    So I think C+ is actually fair.
    B is exaggerating
    B- is debatable (some people me say I’m too harsh and give B- instead, but I think The Dark Knight is closer to C+ than B-).
    While A (or A-, apalagi A+) is totally bullshit.

    Reviews di rottentomatoes sebenarnya juga mengkritik miskoherensi The Dark Knight, meski appresiasi terhadap Joker lebih dominan -which may seem they consider Joker’s act may compensate for the weak aspects of the movie. But I dont come for Ledger, I come for the movie.

  5. Gravatar Iconfentastic

    waduh mbak/mas, kalo batman ini dapet cuma C+, trus film indo kita dapet nilai apa donk?

    namanya juga mas christopher nolan sukanya bikin film serius ya jadinya batman lebih kelam, jadi ya harap dimaklumi, justru menurut saya, film batman yang dulu cuma sekedar film hiburan, batman konyol, masa musuhnya ga punya kepribadian khas, kalo yang batmannya mas nolan kan ada ciri khas, musuhnya pada psycho tapi memang itu yang pantas terjadi di dunia real kita, mana ada orang psycho kayak jokernya “versi jack” di dunia real ini,

    Parahnya, Nolan tidak sekali pun menunjukkan sisi “well-organized” Joker. Tidak ada clue yang diberikan kepada penonton untuk mendukung sisi ini –> ya iyalah, namanya juga yang jadi maling itu joker, masa polisi tau rencana di maling sih?

    Aneh, ya. Konyol. Ga masuk akal. Masang bomnya kapan? Memang kita nonton kartun? –> joker kan kaya mbak, dia punya banyak anak buah, ratusan kali, namanya juga punya uang banyak, sapapun bisa dibeli dong, bahkan anak buahnya gordon yang cewek itu aja jadi anak buahnya joker gara2 kepepet ga bisa bayar biaya RS ibunya, jadi intinya anak buah joker itu pekerja ga tetap lah, asal ada uang, yang banyak ae anak buahnya

    Yang lebih mengesalkan lagi, penonton tidak mendapat gambaran tentang seberapa banyak sebenarnya anak buah joker. Sepuluh? Dua puluh? Tidak ada sama sekali adegan yang menunjukkan interaksi, atau cara Joker me-manage anak buahnya. –> joker manage it by his money, bayangin to, uang se gudang ae dibakar sengaja, waduh, uangnya joker ya lebih banyak dari itu kaliiii…….

    Terlalu banyaknya aksi kriminal Joker itu sendiri akhirnya juga membuat The Dark Knight seperti melodrama: berpanjang-panjang, meliuk-liuk, dan akhirnya kehilangan klimaks. — > aku nemuin klimaksnya tuh, ya waktu joker dengan semua strateginya bikin batman putus asa

    Akting Heath Ledger sendiri, well, bukannya hendak menjelek-jelekkan orang yang sudah meninggal, sebenarnya tidak bagus-bagus amat. C+ lah, sama dengan rating filmnya –> hmmmmm………..C+ lebih cocok buah harvey, i don’t like him, tapi kalo ledger, dihargai dikit po’o, mana ada yang bisa sepsychp kayak joker versi ledger, sayangnya mungkin anda kurang bisa melihat karakter ya

    Ledger memang berhasil menunjukkan sosok Joker sebagai musuh tersadis Batman. Tapi ia gagal mengartikulasikan sisi lain Joker yang sebenarnya indah -his deadly humor –> menurut aku nih, kalo yang humor itu harus e the riddler, bukan joker, namae trauma masa kecil mana bisa ketawa ketiwi, no funny at all

    Q: Apakah Ledger berhasil menampilkan sosok Joker sebagai musuh tersadis Batman?
    Y: Yup, OF COURSE

    Q: Apakah Ledger berhasil menampilkan sosok dark humor Joker?
    Y: DARK HUMOR IS DIFFERENT WITH JACK NICHOLSON ” JOKER” HUMOR, SO MY ANSWER IS ABSOLUTELY YES

    Penonton dipaksa menelan fakta bahwa yang lucu dari sosok Joker hanyalah riasannya dan bibirnya sobek tersenyum. Tapi tidak tindakannya. Nothing on his actions would show he’s funny. –> OF COURSE HE IS NOT FUNNY, wong jokernya cuma nutupi luka wajah + kesedihan nya makae pake make up

    Kehadiran Harvey Dent yang di film itu bertranfromasi menjadi Two-Face juga ikut menambah bertele-telenya The Dark Knight. Too much sub-conflict. –> NAH, KALO YANG INI AKU SETUJU, ANEH AJA, MASA CUMA GARA2 TUNANGANNYA MATI, HARVEY LANGSUNG SADIS SIH, TAPI BIBIT2 KESADISANNYA MEMANG UDA MUNCUL WAKTU DIA BAWA SI SAPA ITU KE REL KERETA KALI YA, TRUS MAU DITEMBAK TAPI DICEGAH BATMAN, CUMA ANEH AJA, TIBA2 JADI SADIS, EMANG MUKANYA BUKAN MUKA ORANG BAIK TAPI DARI AWAL DIA DICERITAIN SEBAGAI PEMBELA KEBENARAN

    Apalagi ketika ending film ini lebih merupakan “respon” atas tindakan Two-Face alih-alih Joker. Ini membuat saya makin kesal. Jadi tidak jelas siapa sebenarnya penjahat utama di film ini: Two-Face atau Joker? –> YA JOKER LAH……TWO FACE CUMA PENJAHAT PENDUKUNG

    Well, Anda tentu boleh tidak sependapat dengan saya. Tapi saya pikir, sebaiknya jangan nonton The Dark Knight di bioskop. Nonton DVD-nya saja (bajakan atau asli, terserah) is enough. –> SOUND NYA BEDA ATUH

  6. Gravatar Iconfentastic

    waduh, ternyata yang bikin blog mas mas, maaf salah tulis mbak, soalnya waktu saya mau koment, koment yang lain pada belum nongol, mas basf ya, salam kenal, maaf aja kalo comment aku banyak yang ga setuju, tapi emang gitu menurut aku, salut buat ledger, dia berperan ga asal dapet uang aja, tapi benar2 bekerja sepenuh hati, cuma sayang, salah peran sampai akhirnya harus tewas, GBU

  7. Gravatar Iconbasf

    salam kenal juga mas fentastic. trims utk masukannya. meski i stand by my stance. :)

    film indonesia dapat berapa? wah, haha, pertanyaan sulit karena saya jarang nonton film Indonesia. Film Indo terakhir yang saya tonton adalah Merah Itu Cinta, dan mending ga usah dibahas aja.. hehe

  8. Gravatar IconPatria Asmara

    Mas Basf,

    thanks atas comment-nya. Sebenernya waktu aku kemarin nulis blog itu rada-rada mabok juga soalnya (terus terang) aku dah nonton TDK sebanyak 4 kali. Ketagihan? Mungkin. Tapi mungkin saya terbawa hype-nya TDK dan reviews-nya yang wahid punya (94% di rottentomatoes).

    I tried not to make the same mistake by reviewing this movie. Setelah saya selesai nonton premiere-nya Batman Begins 3 tahun yang lalu (terus terang) saya memberikan nilai “F” untuk film tsb. Yup! Mungkin expectation saya tentang BB beda dengan penilaian saya terhadap Batman2-nya mas Tim Burton dan Joel Schumacher (although I admit that Batman & Robin is the WORST Batman movie EVER).

    Untuk film Indonesia, saya pikir banyak yang bisa diberi nilai plus dan review yang sangat bagus seperti contohnya: Ayat-ayat Cinta, Nagabonar Jadi 2, Get Married. Ke-3 film diatas masing-masing membuat saya tersentuh (AAC), menggali jiwa patriotik saya (NJ2) dan menohok sense of humor saya yang amat dalam (GM).

    Tapi sekali lagi, review adalah review. Kita bisa subjektif maupun objektif.

    Salam.

  9. Gravatar Iconbasf

    mas patria,

    Perhaps The Dark Knight is like The English Patient, a kinda you hate-it-or-love-it movie. Some people even dont like it for moral reason, coz it glorifies Joker -they usually have conservative tendency that film should not endorse villain character.

    Well I dont hate it, but surely not fall in love with it. I think I’m just in the middle of those two feeling. :D

    I read lots of reviews after posting my piece, and most of them are full of compliments. Stephen Hunter of The Washington Post (I kinda consider him a respectable movie critic) gave a nice compliment, though not overtly positive, and slightly mentioned the semi-coherent part of the narrative structure.

    What now seems interesting is the fact that negative criticism (or overtly negative criticism) is “assaulted” by the so-called “batman fans”. Rottentomatoes.com is a good place to start. I just read several pieces from critics who dont really gave positive review about The Dark Knight (Salon.com, The New Yorker) -though I dont necessarily agree with them- got a backlash.

    Other reviews from relatively small publication or online sites which heavily criticized the movie got a bigger backlash. Even death threat. :roll: Check here if you’re interested.

    I think that’s because Batman is so iconic that people feel attached to it. They got angry when their hero is criticized. Batman is my favourite too. But I just like Batman Begins better than The Dark Knight.

  10. Gravatar IconPatria Asmara

    Wah, terima kasih atas pendapat mas basf. Memang betul bahwa bahkan film2 Hollywood-pun bisa menuai pro dan kontra dari berbagai sisi. Saya sendiri walaupun sudah menonton TDK sebanyak 4 kali tetap saja menganggap film ini tidak masuk dalam “my all-time favorite movie” list.

    Kalau mas basf mau tahu, berikut “My All-Time Favorite Movie” List (dan maksimal saya cuma nonton 3 kali untuk film2 di bawah ini, except as noted): :mrgreen:

    1. Seven Samurai (Akira Kurosawa);
    2. The Godfather Part II (Francis Ford Coppola);
    3. Out of Africa (Sydney Pollack);
    4. Gandhi (Sir Richard Attenborough);
    5. Beauty and the Beast (Disney, lupa sutradaranya siapa. hehehe…);
    6. No Country for Old Men (Coen Brothers);
    7. Lawrence of Arabia (David Lean);
    8. JFK (Oliver Stone. And I bought this Laser Disc in 1993 and watched it almost 100 times. A very very very good conspiracy theory movie);
    9. The Godfather (Francis Ford Coppola); and… finally:
    10. E.T.: The Extra Terrestrial (Steven Spielberg).

    Kalau boleh tau, mas basf pasti juga pasti punya “All-Time Favorite” list kan? Will you be interested in sharing it with us?

    Salam. :D

  11. Gravatar Iconbasf

    Wah, you seem to be a very much movie fan. Your list might be longer than mine. But here are some films I consider my favorites.

    1. Godfather 2
    2. Life is beautiful
    3. Children of Heaven
    4. Crash
    5. Internal Affairs (Tony Leung and Andy Lau. It’s an A class movie. The US version, The Departed, is a crap, tasteless, shame! I laughed when The Departed got Oscar… Americans bah! You silly and tasteless! Get some culture will u!!! Those who think The Departed is better should refine their taste…hehe kasar ya? sori, maklum I was very angry to watch The Departed coz it cant outmatch -justru mereduksi habis-habisan, seakan memperkosa- the darkness, subtle complexity and beauty of the original movie..damn!

  12. Gravatar Iconfentastic

    sebelumnya perlu diketahui juga, aku nih bukan penggemar batman, dari alur ceritanya sendiri, kurang menarik buat aku, namun aku menilai ngga dari alur cerita aja,banyak hal kecil yang ku perhatikan ga aku dapetin di film2 indo kita, bukan maksud menghina, karena maksudku waktu membandingkan dengan film indo adalah aku liat dari genrenya, batman kan genre action, tentu bukan aku bandingin sama film seperti ayat2 cinta (meskipun menurut aku, film itu g bagus2 amat, cuma inti ceritanya memang bagus, tapi overall not exciting banget), beda kan, nah….yang bikin aku bener2 salut sama batman adalah gimana heath ledger menghidupkan tokoh joker yang psycopat (definisi psycopat menurut aku itu, orang e sadis tapi roman muka ga kayak orang gila, cenderung ke arah psycopatnya ala SAW), sedangkan joker yang dulu menurut aku lebih condong ke arah orang gila tulen yang bener2 ga waras, (subyektif), intinya, batman = C+ aku ga setuju deh, semua film memang selalu ga bisa dilogika, sering ada pertanyaan : kok tiba2 muncul ini, perasaan tadi orang itu ga bawa apa2 kok tiba2 senjatanya banyak, atau apalah yang bener2 ga masuk akal, namun itulah film, yang penting gimana perasaan kita waktu ngeliatnya, biasa2 aja atau bener2 excited, gimana penghayatan tokohnya, terutama bisa diliat dari matanya, ya…kalo emang beda wajar deh, namanya juga manusia da ada yang sama dan sempurna

  13. Gravatar Iconfentastic

    kalo emang beda wajar deh, namanya juga manusia ga ada yang sama dan sempurna –> salah ketik

  14. Gravatar IconPatria Asmara

    Mas fentastic… memang tiap orang beda2 dalam me-review suatu film. Mungkin saran saya kalau mau menonton film di bioskop adalah: tontonlah sesegera mungkin setelah film tsb sudah premiere, jadi expectation kita terhadap film tersebut tidak “diracuni” review (dari internet, seperti yahoo movies, rottentomatoes, dlsb), hype dan pengiklanan yang besar2an (dari media, seperti tv, koran, dlsb), dan juga omongan orang/word-of-mouth yang kadang kita dengar: “Wah, filmnya jelek”, atau yang lebih khusus seperti: “Wah, aktingnya payah, skenario lumayan, tapi visual efeknya bagus”.

    Untungnya, di Indonesia, khususnya di Jakarta, sejak beberapa tahun terakhir ini kita dimanja dengan premiere yang bersamaan dengan di Amerika dan bahkan bisa lebih awal (seperti Spiderman-3 dan Transformers tahun lalu). Kemungkinan besar untuk menghindari pembajakan.

    Semoga input dari saya bisa berguna. Overall, saya tetap menganggap TDK itu ratingnya B. Period.

    Salam.

  15. Gravatar Iconfentastic

    Whatever d….

  16. Gravatar IconBatboy

    Bego smua!!..batman film terbaik dr yg terbaik!!..dan bakal ngegeser pendapatan titanic!!…rating gw!..A+++

  17. Gravatar Icontulkimarv

    to Batboy,semua komentar di atas pakai analisa, yang terakhir justru memperlihatkan komen bego !!!!

Leave a Comment


:o :cry: :arrow: :?: :? :roll: :evil: 80 :D :( :x :) ;) :twisted: :| :P :!: :idea: 8) :lol: :oops: :mrgreen: